Data Privacy Law


„Halo Bapak, kami dari perusahaan xxx mau menawarkan fasilitas yyy untuk bapak …“

Rasanya dulu di Indonesia, hampir ada aja satu dua kali setiap minggu telfon reguler kayak gitu yang dateng gak tentu. Kadang nawarin credit card, kadang nawarin pinjaman lunak, sayangnya gak ada yang nawarin kepala kakap Medan Baru gratis diantar saat itu juga ke rumah atau ke kantor (yang ini pastinya gak bakal ditolak dong).

Pada dasarnya praktik penawaran produk lewat telemarketing itu sesuatu yang wajar dan general banget buat dilakukan di era modern ini. Alasannya, murah karna cuma butuh fasilitas telfon rumah, dan jumlah call harian yang tinggi banget disbanding mekanisme sales normal yang harus bikin schedule meeting, habis waktu di jalan buat ke tempat meeting, belum lagi kalau face to face minimal setengah jam kali habis walaupun meetingnya simple kayak door to door nawarin pisau yang katanya buatan Italia tapi hari itu diskon jadi Cuma bayar 100 ribu dibanding normalnya 2 juta. Yang terakhir ini semi penipuan juga sih karna sebetulnya harga barang 2 juta itu Cuma ngarang, tapi lebih manfaatin konsumen yang ngerasa seneng duluan dapet barang murah karna berhasil nebak pertanyaan dari sales yang ngomongnya lebih hebat dari komentator bola biasanya. Pernah saya coba jawab salah pertanyaannya akhirnya dianulir dan dianggap bener sama si mbaknya waktu itu, plus pas saya bilang gak mau beli dia ngancam karna saya tandatangan laporan presentasi mbaknya jadi gak bisa gak jadi beli – sampai saya bilang gapapa kita selesaikan aja di kantor polisi baru deh dia ngibrit.

Oke kembali lagi ke telemarketing, disini salahsatu tugas saya juga menghandle marketing channel yang satu ini. Banyak agency professional yang memang menghandle jasa telemarketing, dengan kualitas yang biasa sampai yang hire mantan sales manager yang bisa 4 bahasa, yang sempat saya hire untuk handle telemarketing market Jerman walaupun dia telp calon customer dari Inggris. Walaupun murah dan produktifitas tinggi, telemarketing ini gak terlalu tinggi conversion ratenya. Pertama orang banyak yang merasa annoyed pas terima telfon yang nawarin produk, yang kedua emang orang lebih hormat dan gak enak kalau ketemu orang langsung – yang gak berlaku kalau via telfon – tinggal pura-pura sinyal jelek bisa deh langsung tut … tut …

Yang membedakan dengan di Indonesia adalah, di Eropa ada yang namanya data privacy regulation. Jadi semua data yang dipakai, harus jelas dan legal cara dapatnya sebelum bisa di hubungi via telfon. Dan kalau di trace, harus jelas bahwa customer sudah setuju untuk dihubungi di nomor itu, atau nomor itu available di public domain kayak misalnya yellow pages atau website resmi perusahaan, baru bisa dihubungi.

Ada beberapa kasus fatal yang bikin perusahaan yang ngasih data kita tanpa approval pengguna, sengaja atau tidak sengaja, ke pihak lain, harus bayar denda jutaan dollar. Salahsatu yang paling terkenal adalah Ashley Madison, perusahaan semacam facebook tapi khusus buat mereka yang pengen selingkuh. Tinggal daftar dan cari calon pasangan disana, yang pastinya juga pengen selingkuh. Mottonya aja “Life is short. Have an affair.” Nah suatu hari, ada hacker yang akses data pengguna mereka, ada sekitar 37 users yang akhirnya datanya dicuri, dari nama sampai nomer credit card, dan di publish di darkweb. Sulit banget posisi korban disini mau lapor juga gimana ya. Akhirnya setelah diproses secara hokum, Ashley Madison harus bayar sekitar $11 juta Karena kelalaian mereka bikin data customer bocor.


Jadi dalam kasus diatas, kalau saya gak pernah kasih nomer handphone saya untuk dihubungi, seharusnya saya bisa protes dan secara legal nuntut perusahaan yang nelfon Karena dia menggunakan data saya yang entah dari mana itu untuk telfon, apalagi offernya gak asik. Dan nantinya harusnya akan ketahuan siapa yang bocorin data nomer telfon saya, dan idealnya akan kena hukuman atau harus bayar ganti rugi. Tapi entah di Indonesia udah ada belum ya pasal data privacy ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s