Bisa Karna Biasa

IMG_2939

Katya kalo lagi di rumah – favoritnya adalah main Barbie sama main Lego. Kadang di merge sih, Barbie nya dibikinin rumah dari Lego.

Weekend ini di Hamburg cuacanya mulai dingin, plus hujan terus khususnya hari Minggu ini, cuacanya gak enak deh kalo lagi begini, shitty weather kalo kata orang sini malah. Dan karna itu juga jadinya satu hari ini kita seharian cuma berkegiatan di rumah.

Yang menarik, seharian ini Katya ngajak terus main kartu Uno, buat yang belum tau bisa di browse di google tentang cara mainnya, tapi cukup menarik kok regulasinya, gak kalah lah sama capsa atau gapleh yang tenar di anak 90an hihi. Btw saya inget pertama kali saya beli kartu Uno ini sekitar setahun yang lalu di bulan Juni, karna kartu ini saya bawa sebagai oleh-oleh buat Katya dari business trip. Artinya ya efektif 6 bulan lah dia belajar main kartu ini sampai sekarang, dan mainnya juga gak sering-sering amat sebenernya.

Yang lumayan bikin terkejut adalah … dia menang terus! Gak 100% sih tapi ada lah 50% permainan dia menang. Saya dan Reti juga kayaknya gak ngalah amat kok mainnya, cukup serius, walau gak enak hati juga kalo ngeluarin kartu yang bikin dia harus nyangkul 6 kartu – tapi semenjak dia menang terus kayaknya udah kita anggap seumuran aja setelah beberapa game. Selain itu dia juga share strategi dia gimana biar menang, gimana dia simpen beberapa kartu spesial sampai akhir biar probabilitas menangnya makin gede. Canggih amat.

Selain masalah main kartu, satu lagi yang sebulan terakhir Katya main sering banget adalah catur. Dan sejujurnya lebih dari ekspektasi sih, beberapa malam terakhir ini kalo main gerakannya udah make sense, makin banyak variasi langkah yang malah kadang dia bikin sendiri. Semoga gak terlalu cepet sampai bapaknya ini kalah terus ya nak kalo main sama kamu.

Well, walaupun cuma dua sample yang dipake, tapi ini memperkuat hipotesis saya pribadi sih, bahwa yang namanya skill dan kemampuan itu bakal muncul ketika kita sering latihan, ketika kita terbiasa. Bukan karna kita ikutin anak les dari guru yang juara dunia misalnya, atau bukan karna dia kita beliin peralatan catur yang dibuat dari black diamond Afrika.

Cukup rajin diajak praktek, dijaga motivasinya biar tetep semangat, dan kita kasih deh tips and trick yang pas sesuai level nya – kalau udah masuk titik optimal kayaknya otak mereka udah bisa improvisasi sendiri buat enrich informasi yang kita kasih itu biar lebih variatif lagi malah.

Sebagian orang nambahin kombinasi reward and punishment juga biasanya buat anak mereka, tapi buat saya sejauh ini kayaknya belum perlu sih. Buat Katya kayaknya kalau saya atau Reti ngajak main aja udah senengnya minta ampun dia. Walaupun pas dia semangat mau belajar catur misalnya, saya beliin sih papan catur yang dia pilih sendiri di ebay. Tapi normal kok gak yang ukuran 20 meter x 20 meter yang harus ditaro di taman kota hihi.

IMG_2942

Papan catur yang dipilih Katya di ebay. Tentunya papanya udah filter yang harganya dibawah budget maksimal dong sebelum dia pilih.

Kalo kata artikelnya Bob Barkey, And children are happy when their basic survival needs are met, when they are respected and cared for, when their natural and individual curiosities are piqued, and when they are not bored to tears with what is meaningless content followed by threatening and inappropriate testing galore.

Hebat ya anak-anak ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s