Kompetisi Olahraga se-Hamburg Raya

Hari ini, adalah hari yang ditunggu-tunggu, khusunya sama Katya yang keliatan dari pagi ini udah seharian latihan mewarnai gambar, yang entah kenapa gambarnya iron man, yang seminggu terakhir ini setiap malem dia tonton di netflix, bukan versi avengers-nya sih tapi versi kartunnya gitu ada new series yang sampe sekarang udah ada 26 episode (sampe hafal gini).

Yes hari ini adalah hari dimana warga Indonesia se Jerman utara, lebay sih tapi memang wilayah konsulat Hamburg ini Jerman Utara, kumpul buat memperingati hari anak nasional, sekaligus hari kemerdekaan yang disegerakan, lebih cepat lebih baik kayaknya memang prinsip tim konsulat disini. Selain acara ramah tamah, dan unjuk bakat beberapa warga Indonesia, ada juga lomba-lomba buat anak dan juga buat orangtuanya.

Berhubung beberapa bulan terakhir ini saya mulai menggeluti olahraga catur, yang semakin mudah memang karna lewat software aja di iphone – lawannya bisa dimana aja dan kapan aja, daftarlah saya melawan master-master senior sini. Yah itung-itung nambah pengalaman. Oke metodenya baru nih, blitz, yang artinya dihitung waktu maksimal kita buat mikir sekaligus jalan adalah 5 menit, plus sialnya gak usah ngomong kalo kena skak, jadi out of nowhere bisa di bantai raja pake sniper nun jauh disana.

Pertandingan pertama. Lawannya bapak-bapak yang mukanya ceria. Jenggot putih menandakan kebijakan. Lansung lah tangan ini melangkah sotoy buka permainan. Satu langkah, dua langkah, dan sekitar 3 menit kemudian matilah sudah raja saya dibantai sama ratu bapak bijak berjenggot putih ini. Dan ternyata dia juara bertahan catur di Hamburg, yang kebetulan hari ini jadi juara juga. Halah.

Oke pertandingan berikutnya. Karna sistemnya round robin, jadi hari ini sekitar 10 pertandingan harus dijalani semua peserta melawan peserta-peserta yang ikutan lomba catur ini. Bapak ini juga berkacamata, rambut rapi, putih juga. Feeling-feeling gak enak nih, karna akrab sama bapak juara tadi. Dan ternyata benar saudara-saudara, mungkin temen sparing si bapak juara, tapi tiga menit kemudian raja saya juga modar dipenggal seluncur bapak yang dengan anggunnya melintasi papan catur, karna emang peraturannya gak perlu ngomong kalo skak.

Dan sepuluh pertandingan berlalu, empat menang enam kalah. Skip banget untung akhir tahun ini udah balik ke Indonesia, gak perlu menghadapi bapak-bapak penuh pengalaman dan tipudaya catur disini lagi tahun depan haha.

IMG_2905

Anyway, walaupun bapaknya hancur lebur jadi butiran debu di cabang catur, tapi Katya dapet juara satu di lomba mewarnai plus lomba makan kerupuk! Wow. Sayang Mischa gak bisa ikut lomba makan kerupuk juga, calon juara se-Indonesia padahal kayaknya lihat bakat makannya ini. Congratulations Katya!

Pertama kali nih dia jadi juara dan dapet hadiah. Semoga more to come ya Katya! Anak ini tapi jiwa kompetitifnya gede juga sih, harus bisa juga nanti nerima dengan santai pas gak bisa menang, dan yang ini kayaknya gak gampang buat diajarin sih.

PS: jangan komenin poni-nya ya, ini dia potong sendiri, entah dapet ide darimana.


 

Advertisements

Adobe … Kau Bukan yang Dulu Lagi

Baru sekarang saya denger yang namanya Adobe inDesign, disaat ada deadline buat bikin salahsatu marketing communication material, tapi males lewat agency karna butuh beberapa hari biasanya sampai beres, belum jutaan follow up lewat email buat dapet desain akhir yang dituju.

Berbekal kemampuan seadanya buat ngulik Photoshop di jaman kuliah dulu, akhirnya bismillah saya coba download sendiri inDesign, pake versi trial dulu aja siapa tau nanti gak cocok jadi gak terlanjur beli.

Setelah nyoba sofwarenya, wow hasilnya oke juga ya. Dan enak banget interfacenya, plus feature-featurenya. Ya iyalah namanya juga udah ke-skip berapa tahun pake software grafis, terakhir Corel X7 kayaknya yang lumayan sering dipake.

Menyenangkan tapi kembali ke dunia editing marketing material ini. Ada puasnya sendiri pas hasilnya udah jadi. Sedikit adjust sini sana, masukin content, nambah dikit-dikit accessories, voila jadilah satu poster buat project besok di Luxemburg. Terharu deh liat hasil bayi pertama saya dan inDesign ini. Langsung deh di print di tempel di cubicle buat kenang-kenangan.

LUX Chip and Pin rev4.4

Tapi disaat lagi sayang-sayangnya sama inDesign, pas mau coba cari cara beli, ternyata sekarang Adobe udah gak jual ketengan lagi. Jadi kalau mau beli harus langganan, sekitar 3,3 juta setahun. Hiks. Kalo mau sehidup semati sama inDesign, bisa bangkrut dong jadinya. Apakah aku harus lari ke abang DVD belakang kampus, lalu menariku?

Adobe oh adobe …

Tujuh Tahun Kemarin

Sebagai bagian dari generasi millenials, yang katanya gak bisa lepas dari social media dan smartphone, pagi ini saya menemukan satu foto yang menarik dari hasil fitur throwback di salahsatu dari beberapa social media yang memang ada dan rutin dibuka di smartphone sambil ngopi pagi. Seperti normalnya adegan flashback di film atau novel, pikiran saya juga melayang kembali ke beberapa tahun lampau, memutar balik rangkaian kejadian di sekitar kejadian yang terekam manis dalam rangkaian warna dalam foto.

Sekitar tujuh tahun yang lalu, beberapa hari sebelum hari ini, kami menyusuri jalanan lengang di kota Jakarta yang pastinya tidak sepi tapi jauh lebih menyenangkan, karna perasaan di dalam hati sendiri sih. Walaupun pasti tetap ada rasa deg-degan di dalam dada, yang semakin kencang rasanya ketika rumah yang dituju sudah terlihat. Sebuah rumah bertingkat dua, di daerah Cibubur sana. Rumah yang sudah beberapa kali saya kunjungi, hampir satu setengah bulan terakhir ini. Seakan mengulang memori pertama kali kedatangan saya kesini, mobil Suzuki Baleno merah, mobil pertama yang dicicil dari hasil kerja saat itu juga berhenti dan parkir di tempat yang sama.

Saya ingat waktu berjalan cepat, orangtua saya berbicara banyak topik disana, saya hanya duduk, tidak banyak berkata. Tapi pastinya senyum di mulut dan di dalam hati merekah lebar, mengingat akhirnya kesepakatan terjadi dalam diskusi singkat itu, bahwa akhir bulan ini, disetujui akan diadakan acara lamaran, antara saya dan Reti. Acara yang menjadi bagian penting dari perjalanan kisah kami yang waktu itu baru seumur jagung, tidak sampai dua bulan dari pertama kali kami mengganti status kami, juga di social media pastinya – maklum anak millenials. Singkat memang, tapi lebih dari cukup untuk meyakini diri saya, untuk melangkah bersama wanita yang lembut hatinya, cantik parasnya, cerdas pikirannya, dan gak pernah lepas senyum dari bibirnya. Untungnya Reti juga bisa yakin, alhamdulillah.


Ya! Dan setelah itu waktu berjalan cepat, dan menyenangkan pastinya. Sekarang tujuh tahun kemudian, kami di Hamburg sudah tidak lagi berdua, tapi bersama dua balita lucu, hasil beberapa cerita setelah peristiwa itu, yang nanti akan saya share lagi kalau ada reminder lain dari social media.What a beautiful day.