Kenapa Belanda Jauh-jauh Cari Rempah ke Indonesia

Saya ingat jaman SD dulu, waktu masih lucu berbaju putih merah, dan paling deg-degan kalo harus jadi pengibar bendera karna pernah yang berkibar malah bendera Polandia haha. Satu yang bikin saya penasaran adalah, ngapain Belanda segitunya ke Indonesia buat ambil rempah-rempah. 

Perjalanan mereka gak main-main loh, 11.000 kilometer kira-kira, satu bulan di laut, pastinya presentase keselamatannya juga gak 100% di jaman itu. Belum lagi kalau ketemu monster laut, oke yang ini berlebihan. Tapi di sisi lain, berapa sih harga rempah-rempah. Gak worth it kayaknya.

Tapi ternyata emang ilmu itu ga ada batasnya, dan gak bisa dipikir dangkal doang. Jadi sekitar 6 bulanan lalu, di sela team meeting di Krakow, saya ikut kegiatan tim ke tambang garam. Betul saudara-saudara, garamnya ditambang kayak kita ngambil emas sama mineral lain. Turunnya jauh bisa sampai 120 meter dibawah tanah titik terdalamnya. Garamnya bener-bener bentuknya batu, tapi asin, yang pada jamannya di tambang sebelum dibawa keluar jadi bongkahan 700 kg batu garam.


Cuma buat dapat garam? Jangan salah, di jamannya dulu (kayaknya 1400-1600an) gaji pegawai tambang ini, yang di jamannya prestisius, cuma 3 kg garam per bulan. Wow. Plus kalo kita tau bahasa Inggrisnya gaji, salary, itu dari akar kata salz di bahasa Jerman, karna tiap akhir bulan mereka dapat garam, salz, akhirnya dinamain salar, yang abadi sekarang jadi salary.

Data lain dari riset di universitas Toronto, silakan diliat sendiri berapa harga rempah-rempah di pelabuhan Antwerp, di tahun 1400-1500an.


Jadi kalo kita punya 4 lb (sekitar 2 kilo kurang sedikit) cengkeh, kita bisa bayar gaji satu orang buat sebulan kerja di Belgia. Yang kalo nilai sekarangnya berarti 38 hours per week x 4 week x 8€ upah minimum, jadi seengaknya sekitar 1,200€ buat 2 kilo cengkeh.

Gimana gak VOC bolak balik buat dagang rempah dari Indonesia kalo gitu ceritanya. 

Advertisements

Margin Bisnis Videografi ‘Kecil’


Pada dasarnya saya percaya yang namanya bisnis kecil itu ngasih return yang lebih besar dibanding bisnis yang sudah ‘besar’, dalam sisi persentase terhadap modal tapi ya bukan nilai absolut. Misalnya perusahaan besar bisa dapet return 25% dari nilai capital dia setahun, perusahaan kecil – berdasar hipotesa saya, seharusnya bisa lebih besar dari itu.

Kenapa? Karena efisiensi operasional mereka yang lebih bagus dari perusahaan besar. Contoh gampangnya kalau di perusahaan besar karyawan bisa reimburse ongkos taksi buat meeting sama client, di bisnis kecil karyawannya dengan sukarela jalan ke klien pakai motornya sendiri – belum pernah juga saya lihat ada bisnis model mereka reimburse cicilan motor atau mungkin reimburse tagihan ojeg ke klien.

Eh tapi dengan catatan ini perusahaan kecil traditional ya, yang namain dirinya perusahaan startup kayaknya agak beda standard efisiensinya.

Satu lagi juga semangat yang menggebu-gebu dari pihak yang terlibat dalam bisnis, yang biasanya masih termasuk founder bisnisnya ini. Jadi hidup matinya memang untuk membesarkan bisnis yang dia jalankan, sementara perusahaan besar punya puluhan sampai puluhan ribu karyawan yang sebagian diantaranya ada yang ‘terpaksa’ bekerja di sana walaupun passionnya mungkin di bidang lain.

Nah buat buktiin itu, saya coba jadi investor di salahsatu bisnis teman lama – teman SMP yang sudah melanglangbuana bikin banyak bisnis dari restoran sampai terakhir bergelut di bisnis fotografi. Kebetulan yang bersangkutan juga sedang mencoba melabarkan usahanya ke bisnis videografi, dan butuh sedikit investasi. Oke setelah ngomong tentang bisnis modelnya, deal lah bahwa dana investasi saya akan dikembalikan dari keuntungan selama 2 tahun ke depan – plus kalau ada lebihnya akan dibagi 70-30 (pastinya saya 30 karna yang susah payah bangun bisnis sampai jalanin operational teman saya ini – tapi cukup fair kok kayaknya pembagiannya). Tentunya selain investasi modal, saya juga sebagai shareholder buat 2 tahun ke depan ngasih beberapa input saran buat gimana bisnis ini dijalankan, walaupun basic teman saya ini sudah cukup kuat di dunia fotografi, yang banyak beririsan dengan dunia videografi.

Ah btw saya juga termasuk orang yang percaya bisnis yang menguntungkan itu yang gak price sensitive, dan biasanya berkaitan sama rasa cinta seseorang terhadap sesuatu. Misalnya bisnis yang berkaitan dengan anak, baju atau sekolah, atau bisnis yang berkaitan dengan pernikahan atau ulang tahun. Makanya bisnis videografi pernikahan ini menarik banget proposalnya.

Salahsatu yang menarik dari bisnis kecil juga fleksibilitasnya, jadi dari proposal awal sekian juta untuk beli drone, setelah diskusi bisa berubah karna ternyata setelah dianalisa lebih dalam lebih banyak demand dari peralatan lain diluar drone video. Pengalaman saya, kalau di perusahaan besar, perubahan drastis misi dan tujuan pengeluaran capex gak bisa kejadian dalam 1-2 minggu. Ekstrimnya setelah update business plan, presentasi, approval sini sana mungkin secepatnya  2 bulan baru keputusan bisa dibuat – walau gak jelek juga, semua ada plus minusnya.

Nah setelah secara teori masuk akal, dan achievable, minggu lalu saya akhirnya terima pendapatan actual di bulan pertama. Walaupun sedikit di bawah asumsi, tapi mengingat baru satu bulan, total nett margin 1.7% dari total modal itu luar biasa sih buat bisnis traditional. Andaikan stabil di angka tersebut aja net margin bisnis baru ini di tahun pertama udah di angka 20.4% – jauh diatas standar bunga deposito sekarang mungkin dengan investasi sekecil itu nilai bunganya 4-5%. Oke juga kan? Well, ada yang minat untuk bangun bisnis kecilnya? Walau gak bisa dijabarkan secara detail nilainya, tapi modalnya selain kerja keras juga masih cukup masuk akal – mungkin mulai angka 50 juta rupiah sudah bisa jalan misalnya di bisnis videografi ini.