Catatan Perjalanan

Satu kota ke kota lain, satu musim ke musim lain, perjalanan selalu ngasih cerita baru. Bukan cuma tentang kotanya, atraksi instagrammable yang selalu di tangkap kamera, tapi juga cerita di balik semua foto berfilternya. Gimana keliling kota, lupa beli tiket tram. Gimana nyari apartemen, sambil nyasar entah di sisi kota mana. Atau se simple gimana serunya main board-game, larut malam pas si baby-baby kecil udah pada bobo.

Kayak kata Drake, 

Sometimes it’s the journey that teaches you a lot about your destination.

Plus tentunya sama temen-temen perjalanannya juga.

Hari Gugurnya Dedaunan

Pagi ini, jalanan udah penuh sama daun-daun yang gugur. Angin juga mulai kenceng, plus dingin, real feel nya sekitar 3 derajat celcius. Lumayan buat bikin mager, nonton Netflix sambal makan indomie rebus hangat pedes di rumah.

Sayangnya habit kayak gitu gak pernah ada di sini, di negeri empat musim kebanyakan. Mau panas summer, atau salju turun sampe minus 14 derajat kayak awal tahun ini, semua jalan normal. Anak sekolah tetep ke sekolah, on time, yang pastinya pake baju buntel double-double kalau lagi ekstrim dinginnya. Yang kerja juga tetep ditunggu di kantor jam 9 pagi, teng, atau orang sini nyebutnya punklicht.

Well, pohon aja bisa nyesuain diri sama musim yang ada, masa kita gak bisa ya Katya?

Satu obrolan santai di Senin pagi, hari anter Katya yang udah di schedule di outlook repeat setiap senin.

Gambar anak Indonesia (vsyang sementara tinggal di Jerman)

Dari jaman dahulu kala, seenggaknya waktu saya SD sekitar tahun 90an (dan kayaknya mungkin sejak belasan atau puluhan tahun sebelumnya), gambar 99% saya dan teman-teman kurang lebih bentuknya seperti ini. Klasik banget, dua gunung, matahari di tengahnya, tambah sedikit awan di atas, jalan menuju dua gunung (yang kadang belok-belok, kadang lurus, kadang kalau lagi kreatif dikasih mobil di jalannya), plus sawah di kiri kanan jalan.

Jujur saya gak ngerti sih kenapa gambar itu bisa jadi template standar gambar saya dan teman-teman jaman dulu. Kayaknya seingat saya ibu guru gak pernah ngajarin gambar itu, tapi mungkin pengaruh gambar bareng teman-teman, yang akhirnya nularin satu sama lain.

Bagus juga sih sebenernya gambarnya. Dan Indonesia banget karna misalnya di Hamburg sini atau di Amsterdam, gak ada gunung, dan matahari juga jarang muncul kelihatan jelas di langit bersih.

Teori konspirasinya – dari sekedar akal dangkal saya sebagai pelaku kejadian adalah:

  • Saya dulu sebagai anak SD, gak mau ketinggalan sama trend yang ada di teman-teman. Karna kalau gambarnya sama, bisa bandingin satu sama lain, at least keliatan mana yang lebih kreatif nambahin mobil atau pohon kelapa, atau mungkin ada yang super kreatif nambahin sekumpulan burung elang lagi terbang diatas langit, atau mana yang warnanya bisa lebih bagus – karna saya ingat dulu saya amazed banget kalau ada yang warna pakai krayon, rapi, gradasi sini sana. Wow. Magic banget deh.
  • Mungkin ini adalah kerja marketing yang rapi dan jenius dari sebuah daerah yang promosi indahnya alam daerahnya, mereka promosi ini lewat media above the line dan below the line nya , yang saking suksesnya seluruh anak Indonesia sampe tau semuanya. Dan ternyata beneran ada loh dua gunung itu, namanya gunung Sumbing dan Sindoro, nih fotonya, mirip kan? Mungkin ke depannya bisa juga pake tulisan Visit Sindoro biar selain gambarnya melegenda, daerahnya juga bisa diingat sama semua anak SD di Indonesia – jadi brand awareness yang bagus bisa jadi preference dan usage nantinya, pasti brand managernya bangga. Haha kok jadi bawa kerjaan marketing ke sini.

gunung-sumbing-real

  • Atau kemungkinan terakhir ya emang biar cepet jadi aja, gambarnya simple, warnanya gampang, jadi cepet beres, bisa dikumpulin, bisa cepet pulang deh main bola sama temen-temen hahaha.

Nah, pertanyaannya, kalau emang anak Indonesia tanpa pengaruh ajaran guru atau teman-teman sekitar, gambar apa yang bakal keluar. Contoh gampangnya pasti anak sendiri, namanya Katya, umur 4 tahun, dan sudah sekitar 1 tahun tinggal di Hamburg sini.

Voila, inilah hasil gambar-gambar bebasnya.

  • Gambar mermaid yang lagi berenang di laut, sama papanya. Yang jelas dipengaruhi sama kartun little mermaid karna keliatan papanya si Triton raja laut, dan ada perahu yang salahsatunya isinya pangeran Eric. Juga bukti bahwa bapak-bapak bakal hafal dengan baik cerita princess ketika mereka punya anak perempuan. Haha.

  • Yang ini saya kurang ngerti sih gambar apa, apakah ini gambar dua UFO yang datang ke bumi dalam bentuk dua bulatan bercahaya? Apakah mereka datang dan berkomunikasi dengan Katya? Wow! Sepertinya saya harus interogasi Katya setelah tulis blog ini. 
  • Ini gambar dinosaurus biru, yang di punggungnya ada flowers, di kakinya ada kupu-kupu, dan di badannya ada tato rainbow. Plus mungkin ekornya dilukis salahsatu pola batik pekalongan. Dan dinonya baik sekali sampai cium Katya. Ini emang imaginasi plus kreatifitas tingkat dewa kayaknya. 
  • Terakhir, walau sebetulnya banyak gambar lain sih, tapi saya bosen nulis panjang-panjang, plus yang baca juga pasti bosen baca panjang-panjang. Gambar Gajah Katya, pakai topi magic, badan warna-warni, yang mungkin lagi mimpi dapat segenggam berlian di negeri orang, walaupun tetap lebih enak di rumah sendiri di Indonesia. Loh kok malah curhat. 

Semua Tak Sama


Di hidup ini emang gak ada yang kekal, gak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Entah itu kata-kata siapa, tapi emang bener banget sih isinya. Di kehidupan, di bisnis, semuanya berubah, dan semakin kesini semakin cepet siklus perubahannya. Dan akibatnya, siapapun yang gak siap, harus mundur dari persaingan. Contoh klasiknya Yahoo, Nokia, Blackberry, atau mungkin se-simple warung kelontong di ujung komplek, yang omsetnya turun semenjak di blok sebelah dibuka mini swalayan.

Gak ada yang bisa disalahin sih dalam situasi ini, karna pada dasarnya semua orang pengen yang lebih baik, artinya semua konsumen, semua sumber penghasilan bisnis-bisnis dari yang cimit sampe taipan raksasa, juga selalu cari yang lebih baik, lebih nyaman, walau kadang gak selalu lebih murah.

Mereka yang lengser, yang mundur dari perasaingan ini yang harus putar otak, gimana caranya buat comeback dengan lebih baik ke depannya.

Dalam konteks kerjaan saya, yang tentu gak bisa terlalu spesifik detailnya dijabarkan ya, beberapa kali saya harus menyampaikan kabar kurang baik, kepada partner bisnis, tentang mundurnya pihak kami dari kerjasama bisnis dengan mereka. 

Ngeri loh ini, karna pengaruhnya besar, penghasilan mereka turun sekian persen karena hilangnya satu lini bisnis, pegawai yang ada gimana nasibnya – beberapa harus diberhentikan mungkin, belum kalau ada aset yang sudah di investasikan.

Alhasil, meeting semacam ini selau jadi meeting yang satu jam rasanya kayak seribu tahun lamanya, ada yang ngancam, ada yang nangis, ada yang mau nuntut, walau ada juga yang berbesar hati jabat tangan sambil berterimakasih buat semua histori kerjasama yang sudah dijalani. Momen-momen yang bikin banyak banget bisa belajar.

Tapi jangan sembarangan juga, semua harus dipertimbangkan baik-baik, keputusannya harus win-win buat semua, dan sesuai sama komitmen dan koridor hukum.

Tapi satu hal yang paling penting dan paling menarik, sekeras apapun meetingnya, sekesal apapun atas hasil diskusinya, we don’t take it personally. Walau diancam mau maju ke pengadilan misalnya, setelah meeting kita masih salaman erat sambil makan singkong rebus bareng (ini nyata loh ada yang nyuguhin singkong dari kebunnya setelah meeting). Dan ini universal, mau di Indonesia, ataupun di Leeds beberapa jam yang lalu. Karena pertemanan itu terlalu tinggi nilainya untuk dibatasi kepentingan bisnis.

Lagi-lagi pelajaran berharga buat anak muda hijau walau gak ingusan kecuali pilek kayak saya ini. Kalau kata Padi, band favorit jaman muda dulu, memang semua tak sama.

Manfaat Film Kartun?

Dua tiga tahun terakhir, waktu Katya sudah mulai bisa nonton film – yang sebetulnya beragam banget filmnya dari mulai awal-awal dia suka Elmo, sampai sekarang setiap nonton isinya kombinasi dari princess-princess disney. Walau kadang kalau Mischa minta nonton juga, jalan tengahnya nonton Zootopia, yang dua-duanya suka. Ah dan di Jerman sini semua TV lokal pake bahasa Jerman, jadi frekuensi nonton filmnya lebih sering karna jadinya yang hidup apple TV melulu yang isinya bahasa Inggris.

Dari film-film ini, yang mostly Disney sih ya pembuatnya, banyak juga ternyata yang didapat. Gak cuma buat Katya sama Mischa, tapi juga bapaknya haha. Yang tadinya niatnya cuma pengen nemenin nonton aja, jadi ada beberapa hal yang malah menginspirasi banyak hal di kehidupan si bapak yang emang lumayan warna warni sama banyak suprises ini.

Misalnya, speech favorit terbaru, speech Judy di Zootopia:

When I was a kid, I thought Zootopia was this perfect place where everyone got along and anyone could be anything. Turns out, real life is a little bit more complicated than a slogan on a bumper sticker. Real life is messy. We all have limitations. We all make mistakes. Which means―hey, glass half full!―we all have a lot in common. And the more we try to understand one another, the more exceptional each of us will be. But we have to try. So no matter what type of person you are, from the biggest elephant to our first fox, I implore you: Try. Try to make the world a better place. Look inside yourself and recognize that change starts with you. It starts with me. It starts with all of us.” – Judy Hopps

Keren kan? Dari kecil anak-anak ini udah mulai lihat dan belajar beberapa value menarik yang beberapa tahun kemudian mereka baru ngerti kayaknya isi value-value ini. Gimana hidup itu gak sempurna, banyak kesalahan, dan yang bikin kita selalu bisa berhasil adalah saling menghargai, menghormati, satu dengan yang lain. Tanpa lihat perbedaan-perbedaan yang ada. Cool abis!

Diluar itu masih banyak lagi pelajaran beda-beda di film-film lain. Yang selalu bisa jadi jembatan buat ngasih anak-anak muda ini (yang kadang ingusan kalo lagi pilek terutama Mischa hihi) pelajaran dan ilmu baru, dari ilmu kehidupan tentang perbedaan kayak contoh diatas, sampe ilmu astronomi sama matematika pas kita nonton bareng the Martian yang somehow jadi kesukaan Katya beberapa bulan lalu (sampe beli baju astronot loh dia). Dan yang paling penting adalah, film-film anak ini sebagian besar isinya pesan-pesan positif, bagus juga buat kalibrasi otak dan hati papa mamanya.