Mentalitas Ibukota



Saya dari kecil besar di Bandung, sebuah kota kecil yang ramah, aman, jalanannya juga lancar kira-kira maksimal 30 menit untuk satu perjalanan yang agak jauh. Karna lancarnya itu dulu jaman bike to work belum ngetrend saya sudah pakai sepeda dari rumah ke sekolah di masa SMP SMA. Sebelum si sepeda hilang 😦

Ketika lulus dan akhirnya kerja di Jakarta. Rasanya kok ibukota ini memang kejamnya minta ampun. Jalanan macet, orang-orangnya individualis – walau cukup ramah juga sih kalau memang lagi sempet ngobrol, jalanannya juga sulit buat dipakai jalan kaki, banjir lagi kalau hujan. Sulit.

Tapi seiring tahun-tahun berjalan, semakin kelihatan apa sesuatu yang spesial yang dimiliki orang-orang di Jakarta ini. 

Mental ibukota.

Mental yang ikhlas berjuang dua tiga jam di jalan, kadang pakai motor yang pastinya bikin pegal, lalu langsung siap sedia bekerja seperti biasa di kantor. 

Mental all out dimana lembur sampai jam 9-10 di kantor itu lumrah dijalani, dan hebatnya bisa diambil sisi positifnya karna jalanannya lengang sedikit. 

Mental kompetisi tingkat tinggi, dimana setiap tahun pasti kerjaan semakin sulit karna persaingan antar perusahaan juga semakin ketat, tapi bisa dijalani dengan suka cita sambil merayakan satu-satu achievement yang berhasil diraih.

Well, kayaknya sisi mentalitas tingkat tinggi ini yang harus banyak dipelajari sama orang-orang daerah – termasuk saya – karna dengan kekuatan kayak gitu kehidupan ibukota yang lebih kejam dari ibu tiri aja bisa dinikmati dengan baik, padahal dulu di Bandung kalau diminta datang ke rumah saudara yang jaraknya paling 5 KM aja langsung komen yang terucap 

‪”Aduh jauh euy …

Advertisements

Efek Biologis Perfeksionisme.

Menyambung post sebelumnya, dimana akhirnya setelah bertahun-tahun saya merasa perlu ke dokter dan rumah sakit. Gak tanggung-tanggung akhirnya kemarin saya berkunjung ke dokter spesialis syaraf di rumah sakit Pondok Indah.

Bapak orangnya perfeksionis ya?” Tanya dokter sambil mengukur frekuensi detak jantung saya.

Orang-orang yang perfeksionis itu tingkat stressnya secara natural lebih tinggi, kelihatan juga dari detak jantungnya yang lebih cepat daripada normal, karna di otaknya biasanya sudah ada setting deadline-deadline yang terstruktur harus dipenuhi

Menarik juga kalau ternyata sampai badan kita juga beradaptasi dengan cara kerja kita. Berarti buat yang pada perfeksionis, pelajarannya adalah: 

Pertama, set limit untuk kerjaan. Walaupun sekarang email kantor dan kerjaan bisa datang kapan aja dimana aja tapi kayaknya weekend memang dibuat biar kita relax sedikit dan bisa break bentar dari rutinitas kerja.

Jangan lupa minum air putih 1.5 liter sehari. Karna tubuh kita kalau kering makin bahaya. Bisa kemana-mana efeknya, darah sampai ginjal. Ya tapi gak usah berlebihan juga, kalo tiap hari minum lima galon aqua di kantor mungkin satu dua minggu kemudian bisa dipanggil sama kepala divisi procurement.

Olahraga. Selain buat menghibur badan juga buat bikin pikiran lebih tenang. Olahraga ini harus yang sesuai minat ya, jangan ikut trend aja nanti gak bisa dinikmati. Yang gampang sih emang jogging, fitness, atau bike to office karna bisa dibikin rutin satu dua hari sekali – bahkan sambil ngantor. 

Terakhir. Minimasi interaksi statis dengan laptop dan gadget. Karna bikin lelah di syaraf kepala. Mungkin biar aman bisa dibuat kalau mau ngerjain paper di laptop sambil sebelumnya harus naik turun tangga darurat dua lantai ke atas ke bawah biar syarafnya gak capek – tapi syaraf kaki yang ngomel-ngomel pastinya haha.

Si Bundar Bola.

Harganya murah. Satu bola plastik jaman saya SD dulu harganya bervariasi dari 1000-2500 rupiah. Kualitasnya pasti beda. Beli yang murah kaki bakal lecet-lecet karna plastiknya kasar. Bolanya juga gak bulet-bulet amat, gapapa sih asal masih bisa gelinding. Namanya juga dulu uang jajan cuma 200 rupiah perhari. Kalau bola sampai bocor atau meledak kelindas mobil, dengan muka-muka sedih patunganlah 100-200 rupiah per anak buat beli bola baru.

Tapi bahagianya itu loh. Priceless.



Sepakbola jalanan masa kini. Masih pakai bola plastik. Tapi lapangannya lebih bagusan dikit daripada aspal jalanan 🙂

Tiket Konser Online dan Arti Sebuah Customer Service

Kasus nyata menarik yang saya alami sendiri beberapa hari yang lalu. Jadi ceritanya di bulan Mei nanti, sebuah boyband kenamaan asal Irlandia, yang beken di tahun 90an, saya ingat dulu compact disc original pertama yang saya beli adalah salahsatu album boyband ini, akan mengadakan konser nostalgia di Jakarta.

Banyak juga kehebohan yang terjadi di dunia social media, khususnya ibu-ibu muda yang dulunya fans berat boyband ini. Apalagi ditambah embel-embel tiketnya akan dijual presale, dimana artinya si pembeli, aka ibu-ibu 90s ini bisa hemat 500 ribuan kalau beli tiket presale yang mulai dijual hari Minggu kemarin. 

Namanya jaman teknologi tinggi, jual tiketnya juga udah gak lagi kita harus datang ke Aquarius musikindo atau trmpat penjualan tiket di mall-mall, tapi cukup dengan membuat account di salahsatu media online si agen penjual resmi tiket tersebut. Simple dan mudah.

Saking cepatnya penjualan tiket, saya ingat jam 3 sorean Minggu itu, Reti sudah agak panik karna tiket kelas yang diidamkan udah tinggal 3 lembar. Ini percobaan kedua setelah percobaan pertama gagal karna website gak me recognize pembayaran via credit card yang dilakukan sebelumnya.

Dengan semangat 45 di book lah tiketnya lagi, dimasukkan detail kartu kredit untuk pembayaran, dan zonk. Gagal maning.

Okelah pembayaran gagal, mungkin bisa dicoba lagi atau ganti metode pembayaran. Ternyata gak ada opsi itu di websitenya. Customer service gak bisa di call karna weekend. Email gak dibalas. Twitter mention sampai 3 kali juga menguap kayak butiran debu 😦

Asumsi saya sih seharusnya banyak yang mengalami masalah yang sama, gak bisa mengadu kemana-mana. Iseng saya cek lagi di jam 8 malaman – hipotesis terbukti saudara-saudara. Tiket yang tadinya sold out ternyata kembali terisi 30%an alokasinya. Sepertinya banyak yang memang cukup frustasi gak bisa bayar tiket konser idaman.

Lebih ngerinya lagi, hari ini Rabu, ternyata masih ada juga tiket yg bisa dibeli. Lumayan traumatic kayaknya kejadian kemaren untuk fans-fans yang kecewa gak bisa bayar tiketnya. 

Satu pelajaran yang menarik gimana secanggih apapun sistem yang dipunya, tetap harus ada bantuan untuk pengguna yang belum mengerti betul atau punya sedikit masalah dalam menggunakan si sistem. Karna pada dasarnya manusia itu makhluk yang pengen juga dibantu dan diperlakukan dengan baik, yang sayangnya kurang tercapai di jaman serba online ini. Semua interaksi cuma sama form web yang kadang juga masih banyak kurangnya. Sayang loh itu lost sales berapa banyak artinya dari kejadian ini. 

Padahal mungkin solusi mudahnya hanya tinggal menyediakan dua atau tiga orang customer service yang bisa di call 24/7.

Pelajaran menarik buat kita bersama. Tentang pentingnya customer service.

Sehat. Priceless.

Hi all. 

Seperti biasa namanya kerjaan di awal tahun, khususnya buat posisi saya sekarang, numpuknya double-double. Kenapa begitu, karna awal tahun itu saat yang pas buat bikin perubahan, baik itu perubahan sistem, ataupun ngasih yg namanya training etc yang lumayan nyita waktu, tenaga, plus pasti pikiran sih. Ya tapi namanya emang load kerja naturalnya begitu.

Setelah dua bulan awal tahun penuh acara sini sana, setiap minggu pasti ada aja pergi keluar kota, akhirnya bada ini tumbang juga. Agak ngeri juga sih karena sebetulnya saya pribadi bukan tipe orang yang banyak urusan dengan dokter ataupun rumah sakit. Apalagi gejala yang dirasain sakitnya di kepala. Ngeri deh.

Akhirnya pagi tadi pergilah ditemenin Katya dan Reti ke Rumah Sakit Pondok Indah. Masih baju belel karna pagi buta. Masuk emergency room dan di tes darah sebelum dokter kasih dua obat untuk mual dan sakit kepala.

Yang mengharukan buat saya pribadi, Katya yang masih belum tiga tahun rasanya pengen banget berkontribusi buat bantu papanya yang sakit. Sempet agak sedih pas pagi lihat kondisi saya yang sakit, akhirnya selama perjalanan ke RSPI dia minta digendong di depan. Sambil teler juga sih, paling meluk biar dia nyaman duduk setengah tidurannya. Reti juga ditengah hamil tuanya jadi yang paling repot sini sana di kondisi tadi pagi sampai sore ini. Bener memang sehat itu apa yang kita harus jaga, khususnya buat keluarga.



Sore tadi tes darahnya sudah keluar. Ada sedikit masalah pengentalan darah, makanya rasanya pusing. Kayaknya memang kurang minum, kecapekan, kurang olahraga, plus sedikit stress juga. 

Jadi inget quotesnya James Patterson,

Imagine life is a game in which you are juggling five balls. The balls are called work, family, health, friends, and integrity. And you’re keeping all of them in the air. But one day you finally come to understand that work is a rubber ball. If you drop it, it will bounce back. The other four balls…are made of glass. If you drop one of these, it will be irrevocably scuffed, nicked, perhaps even shattered.

Doain cepat sembuh ya!