Halo Weekend!



Advertisements

Buku Tanpa Akhir Cerita

Saya yakin hampir semua orang, biasanya di masa mudanya, pasti suka membaca. Beberapa suka baca cerpen, ada yang suka koo ping hoo (ini saya pernah baca sekali dan gak ngerti serunya walaupun ada sepupu yg sampe koleksi lho), beberapa majalah, atau kalau yang ekstrim mungkin hobinya baca jurnal ilmiah (eh ini beneran ada).

Buat saya sendiri yang selalu dekat di hati adalah komik. Bacaannya ringan, text nya sedikit, dan ada gambarnya. Dari jaman Doraemon (yang sebetulnya gak ada tamatnya sampai sekarang), dragon ball, crayon sinchan, atau paman gober.

 Diantara semua itu, ada satu yang sampai sekarang setiap main ke mall ber Gramedia masih saya cari edisi terbarunya, padahal saya ingat mulainya jaman SD dulu, waktu harga komik masih 2.500. Saking cekaknya uang buat beli komik, dulu saya harus jalan setengah jam (berarti sekitar 2-3 kilo ya) ke pasar Suci di Bandung, karna disana harganya 2.200, angkot bisa sih tapi berarti ilang lagi 200 rupiah, namanya juga uang jajan cuma 300 sehari waktu itu haha. 



Yup. Detective Conan. Komik yang sampai sekarang selalu bikin penasaran dua sampe tiga bulan karna emang terbitnya agak gak tentu antara range itu. Belasan tahun dinanti, gak ada kata tamatnya – malah adanya edisi-edisi spesial tambahan, tapi gak se menarik komik aslinya. Tapi hebatnya, ceritanya tetep seru. Hebat deh si Aoyama Gosho.

Yang belum baca, coba deh. Terutama yang suka cerita detektif, yang biasanya sambil baca sambil sok-sok mikir buat tau trik nya sebelum keluar di ceritanya.

Ah selain itu ada juga yang menarik, buat penyuka detektif tapi males baca novelnya yang panjang-panjang. Sherlock Holmes!



Prioritas Hidup

Hidup itu lucu. Lima enam tahun yang lalu, waktu itu saya masih bekerja di Batam sebagai engineer, saya selalu iri melihat teman-teman yang bekerja sebagai konsultan. Seru juga kalau pekerjaannya banyak melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah lain, selain membuka pengetahuan lebih lebar, pasti seru melihat tempat-tempat baru yang unik apalagi di negara kaya budaya seperti Indonesia. Pikir saya waktu itu. Apalagi salahsatu teman dekat waktu kuliah, sudah menjelajahi seluruh provinsi yang ada di Indonesia, lewat pekerjaannya. 

Sekarang, banyak sekali yang berubah seiring berjalannya sang waktu. Apa yang dulu jadi idaman, ternyata jadi kenyataan. Saya bekerja di perusahaan berbeda, dan sebetulnya sudah berganti tiga perusahaan setelah perusahaan pertama di Batam, dan dua tahun terakhir ini setiap dua minggu sekali pasti saya melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah. Persis seperti apa yang dulu saya bayangkan. Teman saya yang dulu bekerja sebagai penjelajah Indonesia, malah sekarang menikmari hidupnya di Jerman. Roda memang berputar.

You know what? Inilah pentingnya punya pandangan yang luas dan perspektif yang kaya. Apa yang saya inginkan enam tahun lalu, yang kesampaian sekarang, ternyata tidak se indah apa yang Rifqi muda bayangkan. Rasanya memang masih luar biasa bisa bertemu orang baru, kenal wilayah eksotis di ujung Kalimantan, mendapatkan insight tentang bagusnya perkembangan market di Timur Indonesia, tapi ada harga juga yang harus dibayar untuk itu. 

Yang paling mahal pasti adalah ongkos kebersamaan dengan keluarga, Katya yang sedang aktif-aktifnya di usia hampir tiga tahun, dan Reti yang mulai masuk masa kehamilan enam bulan.

Pesan moralnya, bukan membenarkan bahwa rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Tapi dalam setiap keputusan, setiap keadaan, pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Buat saya, pelajarannya adalah jangan menjadi pribadi yang terlalu ekstrim menginginkan atau menolak satu pilihan. Karna apa yang kita mati-matian raih pasti juga ada sisi buruknya, yang mungkin kita kesampingkan karna ego keinginan, dan sebaliknya untuk hal-hal yang kita tolak.

Satu post dari Surabaya, di tengah rasa kangen, plus rasa haru karna sekarang setiap mau berangkat keluar kota, Katya minta dipeluk dulu. Weekend kita main lagi ya 🙂