Satu Weekend di Yogyakarta

2015/01/img_1042.jpg

Kalau gak salah sekitar hari Selasa kemarin, kebetulan hari itu Reti, istri saya, pergi sedikit lebih pagi dari biasanya, dan Katya yang biasanya mandi sama mamanya entah kenapa lagi mager, termasuk males mandi. Akhirnya baru agak sedikit siang dia mau mandi sama papanya.

Kalau pas berdua Katya, apapun momennya, pasti isinya adalah obrolan non stop. Dari ngobrolin mainan, film, atau topik apapun yang random kayak misalnya tentang mobil-mobilan omma yang ada lima.

“Papa kemarin naik pesawat ya? Pesawat Singapura” buka Katya buat percakapan sesi ke sekian. Karna memang minggu lalunya dia jemput papanya yang pulang dinas di Bandara.

“Iya Katya, papa kerjanya harus naik pesawat karna jauh”

“Kalau papa naik pesawat aku mau ikut dong. Kita berdua aja, mama di rumah aja ditemenin Omma sama om Yur (adik ipar). Katya mau naik pesawat sudah lama gak naik pesawat”

Nyess juga sih dia mulai bisa request sambil matanya natap papanya kayak pengen banget. Emang udah lama juga dia gak naik pesawat, sekalinya liburan kemaren udah mau jalan eh malah sakit panas.

Dan itulah akhirnya kenapa weekend ini say yang sampai Jumat dinas di Jogjakarta extend dua hari sampai Minggu.

Tiket Murah dan Harga Sebuah Keselamatan

Beberapa minggu yang lalu, setelah Indonesia dan dunia berduka karna tragedi kecelakaan pesawat Air Asia QZ8051, pemerintah Indonesia melalui menteri Jonan membuat langkah yang salahsatunya kurang lebih membatasi tiket murah penerbangan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan. Satu keputusan yang langsung memicu banyak sekali perdebatan khususnya di kalangan teman-teman social media, berdasarkan frekuensi kemunculan topik tersebut di layar handphone saya akhir-akhir ini 😛

Pertanyaan yang paling mendasar, dari rakyat Indonesia, mengikuti majas pars pro toto (atau totem pro parte ya?) karna sampel nya cuma apa yang ada di circle social media aja sebetulnya, adalah apa sih hubungannya antara tiket murah dengan keselamatan penerbangan? Walaupun penyampaiannya biasanya melambangkan kepribadian masing-masing sih, antara pendukung partai oposisi, pendukung tiket murah karna suka ngebolang, cara nanyanya beda-beda hehe.

Well, disini saya mengemukakan pendapat saya ya, berdasarkan pengetahuan yang saya punya aja dari sisi cost management, marketing, dan operation. Yang patut dicatat disini komponen cost yang ada adalah asumsi saya via apa yang saya baca, sementara prakteknya di dunia marketing kombinasi pengalaman di dunia kerja, hasil denger dosen masa muda dulu di bangku kuliah, plus pengetahuan tambahan dari training ataupun buku.

Oke, jadi yang harus diurai pertama adalah komponen biaya yang ada dalam sebuah penerbangan, karna secara simple keuntungan maskapai adalah total income dari tiket, dikurangi biaya pokok (yang saya tahu meliputi biaya pesawat entah itu sewa ataupun depresiasi kalau beli, biaya bensin, dan biaya overhead untuk maintenance dan karyawan). Kalau saya tidak salah dari apa yang saya baca (nanti saya cari ya sourcenya), biayanya adalah sekitar 100-150 juta rupiah per penerbangan.

Nah dari situ pihak maskapai, biasanya melalui bagian marketing, pasti akan berusaha mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya, karna kalau jumlah pendapatan tiket mereka dibawah biaya pesawat (asumsikan lah 100 juta ya), maka nantinya penerbangan itu bukannya bawa untung tapi malah menghasilkan kerugian buat mereka. Salahsatu inisiatifnya, dan yang juga jadi langkah marketing di kebanyakan industri lain adalah lewat discount promo, dalam hal ini tiket promo. Artinya beberapa persen tiket akan dibuat semurah mungkin, untuk memastikan orang-orang tertarik dulu untuk mencari tiket tersebut, kalau beruntung dia dapat tiket murahnya, tapi kalau nggak ya tetep beli karna toh udah memuncak di dada nih keinginan untuk travellingnya walaupun akan sedikit kecewa karna biayanya lebih mahal dari perkiraan – atau lewat harga normal. Bayangin dua tiga tahun lalu saya pergi ke Hongkong pulang pergi cuma 250 ribu rupiah, saking murah dan gak masuk akalnya harga tiket promo nya.

Nah dari kombinasi sebagian kecil orang-orang promo dan mereka yang bayar normal (akibat terpancing tiket promo tapi akhirnya beli normal) ini akan membentuk yang namanya penghasilan si airline. Yang akhirnya dibuat untuk menutupi biaya operational mereka.

Nah ada satu kemungkinan, yang sepertinya dijadikan hipotesis dalam penghapusan tiket murah ini, ketika orang-orang yang beli tiket di sisi promo nya full sementara di bagian yang tiket harga normalnya tidak cukup banyak buat nutup biaya penerbangan. Artinya biayanya akan negatif atau airline akan mengalami kerugian untuk penerbangan tersebut. Apa sih yang bisa dilakukan oleh airline atau perusahaan untuk situasi tersebut, salah satu langkah adalah subsidi silang dari jalur lain yang menguntungkan sambil berharap suatu hari jalur ini akan menguntungkan juga, langkah lain yang bisa dilakukan kalau memang subsidi silang belum bisa adalah menambah modal kerja – artinya beroperasi rugi dulu nih secara keseluruhan perusahaan sambil berasumsi setelah berapa tahun mereka akan mulai untung dan bisa mengembalikan modal kerja tersebut ke pemilik, dan yang terakhir – yang paling mengerikan – adalah ketika jalur yang dipilih adalah melakukan penghematan yang mengorbankan kenyamanan dan keselamatan, contohnya mengurangi buffer bahan bakar yang biasanya dipakai kalau ada kondisi darurat, atau salahsatu kasus lain adalah tidak mengisi freon (kasus nyata yang sampai penumpang mengamuk di salahsatu bandara tahun lalu karna satu jam menunggu di pesawat tanpa AC), atau mungkin menambah load pegawainya.

Menurut saya sih ada hipotesis kedua, ketika tanpa tiket promo, orang-orang jadi tidak tertarik buat cari tiket penerbangan, akibatnya tiket normal juga tidak banyak yang mau beli dan maskapai penerbangan tetap kekurangan biaya operational.

Yah biar gimanapun keputusannya kan sudah diambil, mari kita lihat apa yang akan terjadi ke depannya sebagai hasil keputusan tersebut.