Rahasia Merawat AC Rumah

Dua hari ini perjalanan saya diisi dengan deru kereta api. Maklum kadang visit harus dilakukan ke kota tanpa akses bandara, seperti Tegal sekarang ini.

Secara garis besar kereta api sudah jauh lebih baik dari beberapa tahun yang lalu. Sayangnya memang waktu tempuhnya beberapa kali lebih lama dibanding pesawat. Nah untungnya, kadang kita duduk di sebelah orang baru yg menyenangkan diajak ngobrol. Seperti kemarin, sebelah saya seorang mahasiswa teknik mesin Undip, yang ahli air conditioning.

Obrolan sempat ngalor ngidul kesana kemari, dari hasil debat presiden, pengalaman dunia kerja, sampai hal-hal kecil seperti musik. Darisitu saya tahu bahwa untuk membantu nambah uang saku, karena Yosafat, si mahasiswa ini kos di Semarang, dia juga bisa membantu servis AC untuk rumah ataupun bangunan. Menarik.

Dari beliau, si ahli AC, saya mendapat beberapa tips tentang AC rumah. Pertama merk yang bagus kualitasnya menurut dia adalah Daikin, Mitsubishi, dan Panasonic. Lumayan nambah pengetahuan karena saya sebagai orang awam praktis hanya tau yang banyak iklannya – apalagi kalau yang brand ambassadornya Dian Sastro 🙂

Yang kedua, freon di AC itu gak bakal habis sampai 20 tahun. Jadi kalau ada tukang yang minta freon AC kita diganti periodic kita harus bisa lebih jeli dan mungkin tanya lebih jauh. Kecuali jika AC kita bocor, si tukang AC memang akan tambal bocornya dan harus isi ulang freonnya.

Ketiga, AC harus rutin di servis. Seberapa rutin? Menurut mas Yosafat ini acuannya 700 jam kerja. Jadi kalau sehari dipakai 9 jam mungkin 3 bulanan harus dibersihkan. Tarifnya kalau via mas Yosafat katanya 50 ribu, tapi ya agak susah di Jakarta segitu ya.

Obrolan menariknya sayangnya harus terputus karena saya sudah sampai di stasiun Tegal, mas Yosafat masih lanjut sampai Semarang.

Thanks ilmunya mas – semoga sukses sidang skripsinya bulan depan.

Usaha Gadget Online yang (ternyata) Sangat Menggiurkan

Kemarin saya berkunjung ke toko elektronik yang ada di dekat rumah, di kawasan pasar minggu. Kebetulan orang tua sedang datang berkunjung dan mereka tidak begitu terbiasa dengan AC – jadi saya kesana untuk membeli kipas angin kecil, maklum lah orang Bandung yang ke Jakarta seperti biasa pasti kepanasan 🙂

Setelah selesai pilih barang, coba, dan bayar – kebetulan saya sempat ngobrol dengan si mas penjaga toko tersebut. Tokonya tidak bisa dibilang besar, kemarin pun pengunjung yang datang hanya saya sendiri saat itu, walaupun secara lokasi sangat strategis, di jalan poltangan raya. 

Yang menarik si empunya toko (sayangnya saya lupa namanya mas siapa), sedikit cerita tentang “bisnis sampingan”-nya. Jadi selain menjaga toko elektronik ini, si mas ini juga punya lapak online (istilah buat penjual-penjual online), dimana dia menjual handphone dan power bank. Asumsi saya ini juga berkaitan dengan profesinya yang menjual barang elektronik – biasanya suppliernya tidak jauh beda dengan power bank. 

Sebetulnya untuk penjualan via internet ini cukup banyak channel yang bisa digunakan, ada tokobagus (yang sekarang berubah menjadi olx.co.id), kaskus (forum jual beli yang saya rasa salahsatu yang terbesar di Indonesia saat ini), ataupun via social media seperti twitter, instagram, dan facebook. Adapun media yang dipilih mas ini adalah media facebook – yang dijalani sudah lebih dari dua tahun. 

Menurut saya pribadi, jual beli online ini ada dua sisi sih – untungnya adalah biasanya harganya cukup menggiurkan dibanding harga di tempat resmi, selain itu kita juga terima barang sampai tidak perlu keluar effort untuk pergi ke toko. Tapi di sisi lain kita juga jadi suka tertipu oleh gambar dan asumsi ukuran (untuk baju dan sepatu biasanya) ataupun tertipu oleh user yang memang niat menipu (karena di online system biasanya pembeli akan transfer dulu dan barang akan dikirim kemudian). Sejauh ini dengan ekstra hati-hati seperti lihat reputasi penjual saya baru sekali tertipu sih dari puluhan transaksi online. 

Untuk menutup pembicaraan, saya ngobrol tentang sisi finansial dari toko online mas tersebut. Berapa sih omset bulanannya? Hebatnya dengan menunjukkan dokumentasi lengkap di buku besar yang dia simpan di meja – mas ini menunjukkan bahwa setiap bulan dia bisa meraup omset 25 juta rupiah kurang lebih. Wow. Besar loh mengingat effortnya relatif minimal dibanding bisnis real seperti buka toko atau resto – yang dia jual di facebooknya pun terbatas pada handphone (khususnya blackberry) dan power bank.

Okelah mungkin itu hanya omset saja tapi untungnya kecil – hey tebak dong berapa persen average untungnya dari bisnis ini – normalnya 20% dengan minimum nett margin 10%. Artinya setiap bulannya mas ini terima sekitar 5 jutaan bersih dari lapak facebook onlinenya ini. Besar bukan? Ada yang pernah punya bayangan bahwa bisnis online ini sebegitu menggiurkannya?