Pilihan untuk Jadi Pegawai

Beberapa tahun belakangan sepertinya sedang marak gerakan entrepreneurship, dimana generasi muda banyak sekali yang ingin dan memutuskan untuk jadi pengusaha di berbagai bidang. Well, trend yang gak salah, karna memang ketika sampai pada level kesuksesan banyak sisi plus yang akan didapat.

Tapi saya rasa gak semua orang ingin, dan naturally talented untuk jadi pengusaha. Saya sendiri memilih untuk menjadi pekerja – di perusahaan swasta pula. Pro and cons pasti ada – tapi coba saya jabarkan alasan saya ya:

– saya merasa punya cukup ilmu yang bisa di aplikasikan di dunia kerja, pada dasarnya saya gak begitu suka kalau ilmu yang saya dapat kurang terpakai. Nah di dunia kerja yang saya geluti saat ini – perusahaan dan bos memberi keleluasaan untuk saya bisa aplikasikan ide-ide yang ada di kepala, gak cuma keleluasaan tapi plus budget dan training tambahan yang diperlukan. Ilmu nambah, digaji pula.

– Semua lurus dan sesuai aturan. Sebuah perusahaan yang baik dan benar pasti gak nabrak aturan yang ada dan sebagian besar sesuai dengan norma yang saya anut. Gak ada tuh under table money, atau paling simple semua software yang dipakai legal sehingga gak melanggar hak orang lain.

– Belajar dan kerja bisa sepenuh hati karena gak ada beban terkait kesehatan keluarga – pengeluaran untuk biaya sakit ditanggung oleh perusahaan – tentu dengan porsinya masing-masing.

– pembagian waktu jelas – setelah jam 5 pulang dan gak perlu kepikiran apa-apa selain buat keluarga dan teman-teman. Yah sekali-sekali lembur ada sih. Tapi once beres ya udah ga ada mindshare buat keluarga kebagi sama kerjaan.

– lokasi deket dari rumah – setengah jam saja 🙂 ini yang paling penting sih.

Tapi again hidup ini pilihan. Kayak di lagu flying without wings, some find it in the faces of their children, some in their lovers eyes, dan banyak tujuan-tujuan lain yang bakal nentuin pilihan kita baik kerja, tempat tinggal, atau even merk mobil.

Buat saya alasan-alasan diatas cukup kuat buat mensupport si tujuan hidup yang dicari 🙂

Seni Kehidupan

Semakin jauh kita berjalan, semakin banyak yang kita lakukan, semakin kita bisa melihat kompleksnya kehidupan. Kompleks karena semakin lama semakin banyak sudut pandang yang bisa kita terapkan untuk memandang masalah.

Di satu sisi ada ilmu yang sifatnya memang idealis – di sisi lain banyak sekali parameter yang nggak dengan mudah kelihatan. Contoh gampangnya misalnya ketika HRD butuh seorang pegawai dengan spesifikasi abc, yang akan di seleksi dengan metode xyz. Rencana yang bagus, sayangnya mungkin gak seluruhnya applicable karna kandidat yang melamar cuma ada yang memenuhi spesifikasi abd atau acd. Mau diulang terus sampai dapat kandidat ideal? Sayangnya waktu jalan terus, tenaga yang ada juga terbatas untuk ulang-ulang prosesnya sampai ideal.

Satu hal baru yang saya dapat dari beberapa tahun ini – adanya parameter politis. Misalnya kalau seorang sales manager ingin mengganti distributornya di wilayah a. Selain constraint yang mirip-mirip dengan pemilihan pegawai diatas, ada juga hal yang harus dipertimbangkan kayak misalnya apa nanti si ex distributor akan jadi antagonis untuk bisnis ini karna sakit hati – karena dunia bisnis itu-itu aja isinya dan mengandalkan network, pengaruh buruk bisa bahaya buat keseluruhan bisnis. Atau sisi lainnya apa nanti langkah ini mempengaruhi mood distributor lainnya – jadi ketakutan, atau malah tambah semangat? Dan masih banyak parameter lainnya.

Menarik ya? Makanya Sekarang saya rasa hidup itu bukan based on sciences aja, karna sisi art nya juga gak kalah banyak.