Coaching

Long time no write. Kesibukan baru, role baru, cukup menyita banyak waktu – tapi di sisi lain serunya bukan main. Salahsatu yang paling valuable di posisi baru ini adalah adanya personal coach, the one yang membantu, personally, buat developing skill saya di tempat tempat yang dibutuhkan.

Pertama ketemu, si coach yang notabenenya pegawai global yang pengalaman belasan tahun di bidang marketing dan sales ini nanya “do you know the difference between training and coaching?”

Well, considering di kelas jaman kuliah dulu saya termasuk yang gak begitu suka penjelasan dosen tentang performance management dan topik terkait, jelas pas ditanya begitu yang si coach lihat cuma jawaban jelas yang tersirat dari tatapan kosong saya 😛

Dia melanjutkan, training itu dilakukan secara general untuk semua orang, kalau saya pelatih lari dan punya 100 anak didik, saya akan train mereka basic2 lari.

Tapi setelah mereka rutin latihan, si pelatih akan bisa identifikasi 10 orang yang punya potensi buat berprestasi di sprint 100 meter misalnya. Nah setelah itu tahapannya berlanjut ke coaching. Si pelatih harua bisa lihat – individually – si 10 orang ini kurangnya dimana dan harus di develop dimana. Misalnya si a harus latihan start, si b harus latihan posisi kaki saat landing. Proses itu terus berlanjut sampai si anak2 ini bisa dapet wujud terbaik mereka, dan even bisa lebih baik dari si pelatihnya – yah kayak Tiger Woods yang coach nya belum tentu sejago dia.

Interesting concept. Dan di kerjaan sekarang cukup kerasa gimana emang adanya coach bantu lihatin personally apa yg bisa diimprove dan gimana caranya. What do you think?

Advertisements