Katya Kirana Azalia

20120927-195929.jpg

4 months old.
Hobi : merangkak mundur.
Lucu ya dia ­čÖé

Advertisements

Do It Yourself

One young academically excellent person went to apply for a managerial position in a big company. He passed the first interview, the director did the last interview, made the last decision. The director discovered from the CV that the youth’s academic achievements were excellent all the way, from the secondary school until the postgraduate research, never had a year when he did not score.┬á

The director asked, “Did you obtain any scholarships in school?” the youth answered “none”.┬á

The director asked, ” Was it your father who paid for your school fees?” The youth answered, “My father passed away when I was one year old, it was my mother who paid for my school fees.┬á

The director asked, ” Where did your mother work?” The youth answered, “My mother worked as clothes cleaner. The director requested the youth to show his hands. The youth showed a pair of hands that were smooth and perfect.

┬áThe director asked, ” Have you ever helped your mother wash the clothes before?” The youth answered, “Never, my mother always wanted me to study and read more books. Furthermore, my mother can wash clothes faster than me.

┬áThe director said, “I have a request. When you go back today, go and clean your mother’s hands, and then see me tomorrow morning.┬á

The youth felt that his chance of landing the job was high. When he went back, he happily requested his mother to let him clean her hands. His mother felt strange, happy but with mixed feelings, she showed her hands to the kid. 

The youth cleaned his mother’s hands slowly. His tear fell as he did that. It was the first time he noticed that his mother’s hands were so wrinkled, and there were so many bruises in her hands. Some bruises were so painful that his mother shivered when they were cleaned with water.This was the first time the youth realized that it was this pair of hands that washed the clothes everyday to enable him to pay the school fee. The bruises in the mother’s hands were the price that the mother had to pay for his graduation, academic excellence and his future. After finishing the cleaning of his mother hands, the youth quietly washed all the remaining clothes for his mother. That night, mother and son talked for a very long time.

┬áNext morning, the youth went to the director’s office.┬á

The Director noticed the tears in the youth’s eyes, asked: “Can you tell me what have you done and learned yesterday in your house?”

The youth answered,” I cleaned my mother’s hand, and also finished cleaning all the remaining clothes’

The Director asked,”please tell me your feelings.”

The youth said, Number 1, I know now what appreciation is. Without my mother, there would not the successful me today. Number 2, by working together and helping my mother, only I now realize how difficult and tough it is to get something done. Number 3, I have come to appreciate the importance and value of family relationship.

The director said, “This is what I am looking for to be my manager. I want to recruit a person who can appreciate the help of others, a person who knows the sufferings of others to get things done, and a person who would not put money as his only goal in life. You are hired.

Later on, this young person worked very hard, and received the respect of his subordinates. Every employee worked diligently and as a team. The company’s performance improved tremendously.

A child, who has been protected and habitually given whatever he wanted, would develop “entitlement mentality” and would always put himself first. He would be ignorant of his parent’s efforts. When he starts work, he assumes that every person must listen to him, and when he becomes a manager, he would never know the sufferings of his employees and would always blame others. For this kind of people, who may be good academically, may be successful for a while, but eventually would not feel sense of achievement. He will grumble and be full of hatred and fight for more. If we are this kind of protective parents, are we really showing love or are we destroying the kid instead?

You can let your kid live in a big house, eat a good meal, learn piano, watch a big screen TV. But when you are cutting grass, please let them experience it. After a meal, let them wash their plates and bowls together with their brothers and sisters. It is not because you do not have money to hire a maid, but it is because you want to love them in a right way. You want them to understand, no matter how rich their parents are, one day their hair will grow gray, same as the mother of that young person. The most important thing is your kid learns how to appreciate the effort and experience the difficulty and learns the ability to work with others to get things done.

Sakinah Mawaddah wa Rahmah

Sudah 2 minggu Idul Fitri berlalu. Menyisakan rasa rindu akan Ramadan, plus untuk saya pribadi, rasa rindu akan silaturahmi keluarga yang rasanya selalu lebih mudah dilakukan di antara tumpukan ketupat dan opor ayam di hari lebaran ­čÖé

Oh ya satu lagi, lebaran selesai, umumnya akan banyak lagi undangan pernikahan dari teman ataupun saudara. Yah mengingat umur kawan sebaya saya yang kira-kira di kisaran usia perak, lagi banyak-banyaknya yang berencana dan akan menikah dalam waktu dekat. Undangan berdatangan, baik via pos, ataupun via media virtual seperti mailing list, yang sekarang lebih banyak dipilih karena lebih interaktif – undangan yang datang akan langsung diikuti dengan ucapan selamat dan semoga sakinah mawaddah wa rahmah-umumnya seperti itu.

Sakinah mawaddah wa rahmah. Kata-kata yang sering sekali kita dengar, baca, dan ucapkan. Tapi saya sendiri sampai beberapa hari kemarin sebetulnya tidak begitu mengerti apa artinya. Di benak saya hanya asumsi bahwa artinya kira-kira bahagia, awet, dan hal-hal baik yang mengikuti pernikahan ­čśŤ

Ketiga kata tersebut – sakinnah mawaddah warahmah – diambil dari QS Ruum [30] : 21.┬áDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.┬á

Secara sederhana, sakinah berasal dari kata sakana yaskunu sakanan, yang artinya diam. Rumah atau tempat tinggal dalam bahasa Arab disebut maskan, dari kata yang sama. Dari situ bisa kita simpulkan, suami-istri-anak yang sakinah adalah yang senang menghabiskan banyak waktu bersama keluarganya,┬ámereka yang mengamalkan┬ákata-kata Adam Sandler di film Click,┬á“family comes first“.┬á

Mawaddah diambil┬ádari kata wadda yawuddu wuddan, yang artinya kerinduan yang sangat. Di antara nama Allah TaÔÇÖala yang indah adalah: al-wadud, yang maha merindukan. Sebuah rasa yang selalu saya rasakan┬áketika harus┬ádinas kantor keluar kota,┬áwalau hanya satu dua hari,┬ámuncul keinginan untuk kembali-sekedar memeluk dan bersenda gurau dengan istri, anak, bahkan orang tua. Mawaddah adalah kerinduan yang besar terhadap keluarga, yang terpisahkan jarak dan waktu.

Rahmah, adalah juga sifat Tuhan, sumber kasih dan sayang. Ibaratnya, Tuhan mengasihi dan menyayangi semua makhluk, bahkan mereka yang terang-terangan bermaksiat kepada-Nya. Bila seseorang atau keluarga sampai pada tahap ini, terbuka luas pintu maaf mereka. Meraka akan tetap mengasihi dan mencintai keluarga mereka, apa pun perbuatan tidak pantas yang mungkin pernah mereka lakukan dalam kekhilafan mereka.

Yap secara singkat itulah arti dari sakinah-mawaddah-wa rahmah yang diambil dari beberapa literatur. Karna kata-kata adalah doa, mengerti artinya pasti memperdalam doa yang diberikan dong ya ­čÖé

Time of Your Life

Hidup itu menarik, setiap saat setiap waktu selalu muncul hal-hal baru. Kadang menyebalkan. Kadang luar biasa membahagiakan. Tapi apapun yang terjadi, do not lose the lesson. Try again, fail again, fail better.

Tapi apapun yang terjadi, ke manapun kita melangkah, petunjuk-Nya selalu ada dimana-mana. Beberapa hari yang lalu, di pagi hari sesampainya saya di kantor, tiba-tiba bos memanggil ke kantornya. Well, bos saya satu ini salahsatu yang paling menyenangkan diantara bos-bos yang terdahulu. Masih muda – dan suka sekali berbagi cerita.

Pagi itu di ruangannya, rupanya beliau ingin saya meng-update materi training stakeholder engagement yang baru saya ikuti. Sebuah training menarik yang membuat kita lebih dapat me-manage stakeholder sekitar kita dengan lebih efektif, beberapa toolsnya pun menarik. Mungkin suatu hari akan saya share di blog ini.

Setelah update beberapa hal, pak bos lalu bercerita bahwa dia baru membaca sebuah buku, How You Measure Your Life, karya Clayton M. Christensen, salahsatu lulusan Harvard. Nampaknya isinya menarik, banyak hal yang dibahas, tentang perusahaan, inovasi, dan beberapa hal lainnya (ini dari cerita si bos lho, lengkapnya coba beli bukunya ya).

Tapi diantara beberapa hal yang di share, ada satu hal yang sangat menarik, yaitu tentang┬ájob delegation. Sebuah fakta tentang para penghuni dunia modern, di millenium ketiga ini, dimana mereka terlalu banyak membagi tugasnya pada orang lain. Menurut bapak Teknik Industri, Frederick Winslow Taylor, sebuah pekerjaan memang lebih baik jika dikerjakan oleh seorang spesialis, dan dalam kenyataannya saat ini bisa kita lihat bahwa teori tersebut dilaksanakan dengan luar biasa oleh kebanyakan orang khususnya di Bandung dan Jakarta┬á(dari penglihatan seorang Rifqi ya)┬á– ketika┬áseorang anak┬ámerasa butuh belajar lebih banyak, orang tuanya akan mengeluarkan uang untuk bimbingan belajar – ketika kita ingin rumah kita bersih, kita delegasikan tugas itu kepada pembantu rumah tangga – bahkan sekedar untuk mencuci motor, kita meng-outsourcehal itu ke cuci steam terdekat.

Dengan terciptanya sistem job delegation itu, implikasinya cukup banyak ternyata. Yang pertama adalah turunnya skill dan pengetahuan kita, terlihat saat menjelang lebaran restoran akan penuh luar biasa, khususnya di kota besar seperti Jakarta, karna memasak sudah tidak menjadi sesuatu yang on our blood lagi. Yang lebih parahnya lagi adalah hilangnya kemampuan kita untuk mengajari anak-anak kita, lah kitanya sendiri tidak fasih melakukan gak mungkin bisa mengajari dong. Padahal pada dasarnya ketika kita “mengajari” anak tentang matematika, atau mencuci motor bersama, atau mencuci piring, hal itu bukan sekedar transfer ilmu antara satu individu ke individu lainnya – melainkan sebuah interaksi yang melibatkan transfer value dan karakter untuk generasi yang lebih muda. Saat-saat bersama itu akan menjadi saat saling berbicara, berdiskusi, bertukar pikiran, dan proses interaksi lainnya yang terkadang jauh lebih penting daripada proses transfer ilmu semata.

Boleh dicoba, diingat-ingat bagaimana rasanya belajar intensif di bimbingan belajar, bandingkan dengan memori ketika diajari orangtua kita tentang mata pelajaran, atau cara menyapu, atau cara cuci piring, anything. Terasakah bedanya?

For me, it is a gentre reminder from Him to shape Katya’s mind, body, and soul-as good as I can. Sebuah ajakan untuk membuat anak muda ini mencuci piringnya sendiri, bukan karna tidak ada pembantu, tapi karna karakter yang terbentuk dengan baik. Mengasah rasa menanamkan indra. Seperti sebuah semboyan dari sebuah SMA Negeri di Bandung,” Knowledge is Power, but Character is More.”