Sweetest Love

Ujang namanya. Seorang ahli kayu yang membantu kami membangun rumah beberapa bulan ini.

Bermukim di Sumedang, secara hitungan kasar dia bisa membawa 2 juta rupiah penghasilan bersih aetiap bulannya. Kerjaannya juga bagus, rapi, dan yang terpenting, jujur. Ngeri rasanya mendengar cerita teman yang ditipu tukangnya hingga ratusan juta saat membangun rumah.

Suatu saat pak Ujang ini ijin pulang kampung, cukup lama, sekitar seminggu kurang lebih.

tuang putra kedah dioperasi“, ujarnya sekembali dari cuti, yang artinya putra beliau yang ternyata menderita kelainan harus dioperasi. Karna masalah yang dihadapi cukup serius, operasinya pun harus dilakukan di RSHS Bandung.

pakai jamkesmas dong mang?” tanya saya yang berasumsi ada special treatment dari pemerintah untuk mereka yang kurang mampu ini. Ternyata beliau memang mengurus semua persyaratan untuk itu, tapi sayangnya konon seminggu di RS, mereka yang datang berharap bantuan membawa jamkesmas tidak mendapat treatment medis. Challenge untuk program pemerintah satu ini, gimana biar ke depannya bisa semudah dan senyaman asuransi reguler.

Ya sudah kalau begitu, la haulla aja pakai jalur umum, biar anak bisa sehat” tambahnya melanjutkan cerita. Dan FYI biayanya 20 juta rupiah, yang kalau diconvert setara dengan gajinya setahun. Semua biaya full dari tabungannya bertahun-tahun. Awesome.

Speechless. Wujud nyata kasih orang tua buat anaknya. Semua daya dan upaya dilakukan, oleh pak Ujang, dan pasti hampir seluruh orang tua lainnya, demi senyum anaknya. Have we thanked them enough?

Advertisements

Bahasa Semesta

Kupercaya alam pun berbahasa. Ada makna dibalik semua pertanda. Sebuah kalimat yang menarik dari Dewi Lestari. Untuk hewan kayaknya memang punya bahasa mereka sendiri, yang menarik adalah sosok Nabi Sulaiman yang di kitab suci tercatat sebagai manusia yg mengerti bahasa seluruh binatang. Emang nabi satu itu idola banget sih, powerful, rich, masuk surga lagi : P

Anyway kembali ke topik, pertanyaannya apakah “makhluk” lain yg ada di bumi ini berbahasa juga? Tanaman, gunung-gunung, air, atau angin.

Secara logis, we cant hear any voices dari mereka dengan telinga kita. Tapi bahkan telinga kita gak bisa dengar suara-suara yang bisa didengar anjing atau kelelawar. Secara agama, burung daun dan gunung konon bertasbih mengikuti indahnya suara nabi Daud.

Di University of Alberta Canada, Ecology Professor James Cahill merupakan ahli tanaman. Bertahun- tahun mendalami bidang tersebut dia membuktikan bahwa tanaman memiliki “bahasa” untuk merespon beberapa hal.

Plants are able to communicate with all sorts of organisms. They can communicate with giant bacteria, with other plants and with insects. They do this chemically,”

Bapak Cahill itu melakukan beberapa riset yang membuktikan bahwa tanaman yg diserang ulat akan melepas bebauan tertentu untuk memperingatkan teman2nya. Surprisingly, walaupun si tanaman ini cuma didengarkan suara ulat (gimana sih suara ulat?), mereka merespon juga, dengan respon yg sama seperti saat mereka nyata diserang ulat.

Awesome ya? Memang pengetahuan manusia masih terlalu dangkal untuk bisa kita banggakan 🙂

Vereenigde Oostindische Compagnie

Beberapa hari yang lalu, muncul topik dari seorang teman yang menghabiskan beberapa tahun studi di Belanda, mengenai pendudukan Belanda atau lebih tepatnya VOC di Indonesia. Bermula dari lukisan besar para pejabat VOC yang berfoto dengan orang-orang (mungkin tepatnya raja-raja) pribumi dalam posisi layaknya kesebelasan bola yang akan bertanding.

“Yang gw denger pas studi di Belanda, VOC itu gak menjajah Indonesia, tapi melakukan perdagangan dengan raja-raja di sini, dan yang terlibat operation dengan rakyat untuk perdagangan itu adalah si raja-raja ini. Jadi sebetulnya siapa menjajah siapa?”. Perspektif yang menarik kan? Karna lihat masalah dari sisi lain itu emang seru.

Mari kita lihat sedikit fakta tentang VOC. Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Perusahaan Hindia Timur Belanda) atau VOCyang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah perusahaan Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Saking berkuasanya, mereka memiliki hak istimewa yang meliputi:

  • Hak monopoli untuk berdagang dan berlayar di wilayah sebelah timur Tanjung Harapan dan sebelah barat Selat Magelhaens serta menguasai perdagangan untuk kepentingan sendiri;
  • Hak kedaulatan (soevereiniteit) sehingga dapat bertindak layaknya suatu negara untuk: memelihara angkatan perang, memaklumkan perang dan mengadakan perdamaian, merebut dan menduduki daerah-daerah asing di luar Negeri Belanda, memerintah daerah-daerah tersebut, menetapkan/mengeluarkan mata-uang sendiri, dan memungut pajak.

Awesome. Bahkan si VOC ini dianggap negara dalam negara pada jamannya dulu, saking berkuasanya. Tapi bagaimanapun – penjajahan di Indonesia itu gak gampang kalau gak punya strategi mumpuni. Medannya sulit, orang-orangnya juga galak, dan kayaknya jaman dulu lumayan tertata si sistemnya oleh kerajaan-kerajaan yang ada.

Nah karena itulah kayaknya mereka memutuskan untuk approach si raja-raja yang sudah berkuasa. Minta mereka paksa rakyatnya untuk kasih upeti rempah-rempah (yang di trading ke Eropa sama si VOC) dengan imbalan harta kekayaan. So dari satu sisi emang dosa penjajahan ini gak cuma milik VOC aja tapi juga ada andil raja-raja pribumi.

Tapi kalau kita pikir lebih lanjut lagi, masa sih raja-raja gak ada yang baik dan punya harga diri buat gak join si VOC cuma buat sekedar uang? Raja-raja ini eksis kok – banyak diantara mereka yang punya harga diri dan belain rakyat, salahsatu yang terbesar Hasanuddin dari Gowa. Nah buat si raja-raja pemberontak inilah si VOC bakal berstrategi – devide et impera sesama kerajaan, hasut buat pemberontakan/kudeta, atau biasa diajak berunding terus diculik.

So di akhir perbincangan – yang disela makanan yang terhidang – kami berkesimpulan bahwa memang si VOC berandil besar buat penjajahan di Indonesia. Bisa aja kalau raja-raja membangkang tapi akan terus di rong-rong (bahasa apa nih rong-rong?), kalau perlu sampai mati, biar penjajahan bisa terus berlangsung.

Sebetulnya situasinya masih agak mirip gak sih sama jaman sekarang? Dengan bentuk yang sedikit berbeda 🙂