Small Action Big Impact

It’s a hard life, it’s a long hard fight. Itu yang dibilang queen dalam lagunya, salah satu lagu yang saya suka sejak masa muda dulu (maklum baru merasa tua pas kemarin training bareng anak angkatan 2008). Well, sejauh ini sudah dua puluh lima tahun kehidupan yang sudah dilalui, masing-masingnya pasti ada tantangannya sendiri. Waktu kecil kesusahan bikin PR dari sekolah, stress pas topi hilang padahal mau upacara bendera. Agak gedean dikit stressnya buat ujian SPMB, atau pas udah masuk kuliah stress ngejarin deadline tugas yang dulu rasanya gak masuk akal. Sekarang, setelah kerja, udah punya uang sendiri, tetep aja ada tantangan lainnya, gimana buat balancing life, gimana buat ngatur financial budget, etc. 

Nah di sela-sela pemikiran tentang budgeting personal life, terlintaslah sebuah hipotesa, bahwa segimanapun uang yang kita punya, entah saking banyaknya atau saking pas-nya itu pasti bisa dibikin pas buat ngejalanin hidup – karena ada hubungan linear antara pola hidup dengan kemampuan financial. Contohnya, dulu waktu kuliah dengan 15 ribu sehari saya bisa beli bensin motor buat ke kampus, makan, dan nabung dikit2 buat beli textbook fotokopian plus ngakalin kekurangannya dengan pinjam dari perpus gratisan. Sekarang dengan gaji yang sedikit lebih besar dari uang jajan masa kuliah, aktifitasnya pun sama, tapi bensinnya dialihkan ke mobil yang lebih boros, makannya di upgrade yang sama ayam tapi lebih mahal karena bayar tempat dan AC, buku pun beli yang versi Gramedia yang baru dan berwarna (belum sampe setingkat beli Periplus juga sih tapi). Yah hukum relativitas ya. 

Nah ditarik dari situ sebetulnya saya merasa ada opportunity buat saya pribadi dan mungkin pembaca sekalian buat nyisipin beberapa action kecil di hidup kita yang mungkin bermanfaat buat orang lain di sekitar kita. Contohnya, misalnya saya biasa kalau weekend jadi sedikit lebih “royal” dibanding weekdays, makan di tempat seharga 50-100 ribu yang tadinya statusnya “harus dihindari” jadi sesuatu yang halal-halal saja. Secara relatif, saya bisa meng-klaim bahwa itu kan sekali seminggu jadi its okay, tapi kalau dilihat dari perspektif lain – misalnya perspektif saya lima tahun yang lalu waktu jadi mahasiswa – uang segitu sayang banget dibelanjakan soalnya kan bisa buat uang makan 2-4 hari misalnya. Apalagi kalau dipake beli indomie terus masak sendiri, kayaknya bisa seminggu nutup 😛

Terus dimana dong opportunity nya? Opportunity nya adalah dengan men switch “permission” kita itu tadi, misalnya permission budget saya yang 50 ribu di weekend ke dalam bentuk makan yang biasa aja tapi memberi nilai lebih buat orang lain – tanpa merubah alokasi budget. Misalnya, kalau biasanya kita makan sushi senilai 50 ribu, boleh lah sekali dalam sebulan kita switch sushi itu ke makan ketan bakar dari bapak-bapak tua yang jualan di pasar dekat rumah. Kenyangnya sama, rasanya mungkin sedikit berbeda (tapi apalah artinya rasa, toh lidah hanya sepanjang 15 cm aja, sekali-sekali diabaikan gak masalah lah ya). Dari makan ketan itu ada yang tahu harganya? Yang saya pernah beli harganya cuma seribu rupiah per ketan, tarohlah kita gak mau rugi dan pengen kenyang – silakan makan 10 ketan seharga total sepuluh ribu rupiah. Nah setelah kenyang dan tahu berapa yang harus dibayar, actions tambahannya adalah mengiklaskan budget yang sudah disiapkan untuk tambahan penghasilan si bapak/ibu penjual. Jadi walaupun tagihannya hanya 10-20 ribu, kita kasih mereka 50 ribu untuk tambahan rezeki mereka. 

Percayalah tambahan 30-40 ribu untuk mereka nilainya jauh lebih besar dibandingkan uang segitu yang kita berikan untuk restoran ataupun layanan jasa besar yang ada di mall ataupun tempat-tempat nyaman ber-AC yang ada di perkotaan. Selain itu ada juga sensasi tersendiri makan di makanan tradisional, obrolan-obrolan cerita dari bapak-ibu penjual yang biasanya sudah berumur dan syarat pengalaman akan membawa perspektif sendiri yang biasanya gak saya temui dari obrolan-obrolan biasa dengan tetangga, keluarga, atau teman. Tambahan ilmu yang pasti ada manfaatnya 🙂 

Well, cuma pemikiran kecil saya saja. Tapi sekali sebulan, atau taruhlah kalau memang sulit sekali dalam tiga bulan harusnya bisa terlaksana. Small action kita big impact buat mereka.