Bangga (?) Mobil Nasional

Dua minggu terakhir, timeline twitter saya penuh dengan berita tentang Kiat Esemka, sebuah prototype mobil buatan siswa SMK di Solo yang digunakan oleh Pak Jokowi – walikota yang saya kagumi karena banyak hal (yang kalo ditulis satu-satu disini panjang banget bisa-bisa posting ini jadinya).

Banyak artikel yang menarik mengenai Kiat Esemka ini, yang di waktu senggang saya baca dari layar blackberry gemini saya. Dari walikota, anggota DPR, sampai politisi, banyak yang menyanjung bahkan berkeinginan untuk membeli mobil tersebut. Semangatnya luar biasa lho, dimana-mana sekarang orang bicara tentang produksi mobil nasional.

Yang saya baca, mobil pak Jokowi dibeli seharga 95 juta rupiah. Sebuah harga yang membuat saya terbelalak sebetulnya, murah sekali. Coba ya kita bayangkan, paling mudahnya mobil sejuta umat Toyota Avanza. Harga konsumennya sekitar 150 juta rupiah, yah mari berandai-andai normalnya margin untuk penjual mungkin kisaran 10-20% ya – mari asumsikan 20% deh, berarti harga produksinya di kisaran 120 juta, masih 25% lebih mahal dibanding harga Kiat Esemka. Pengen bahas dari sisi supply chain sih, gimana pengaruh kandungan lokal yg jadi advantage Kiat Esemka vs volume advantage yang jadi advantage produk-produk mobil lain – nanti aja deh di post-post berikutnya.

Nah yang mengganjal saya saat ini adalah … apakah kita harus menggenjot semangat mobil nasional, semangat mobil rakyat, yang murah dan bisa dipakai oleh semua orang? Ada yang tahu berapa banyak mobil yang beredar di Indonesia di tahun 2011 ini? 800 ribu unit lho. Dan semakin adanya mobil murah nantinya, bisa semakin banyak mobil terjual pastinya dong, belum ditambah jumlah motor yang terjual. Sanggup gak jalanan kita buat nampung?

Mungkin gak ya, kalau petinggi-petinggi kita mencontohkan untuk mengendarai kendaraan umum. Siapa tahu efeknya sebesar efek mobnas tadi. Mau naik kereta api (yang pernah dicoba pak Dahlan Iskan – kontinu gak ya itu?), atau angkot, atau trans jakarta, atau sarana-sarana transport lain. Dengan begitu jumlah kendaraan yang beroperasi bisa jauh berkurang (tarolah angkot isi 7+5 orang, yah minimal jumlah kendaraan yang beredar bisa di reduce 80% lah). Advantage lainnya, semakin banyak juga orang yang ketemu orang lain, pak pejabat bisa lihat pak tani yang bawa beras ke pasar, bisa nguping anak sekolah komat-kamit baca buku menjelang ujian, bisa juga ngobrol sama pak sopir tentang kerasnya kehidupan di kota. In the end, makin akrab, makin empati, makin saling mengerti, mudah-mudahan bisa bikin semua jadi semakin menyayangi satu sama lain 🙂

Advertisements